Lunch Break
Aku mengambil langkah ringan dengan riang. Jalan setapak yang familiar dengan telapak kakiku. Walau tentu aku memakai alas kaki, tapi saking seringnya berkunjung, aku jadi hafal sekali rasanya berjalan disini. Atau mungkin juga wajah yang akan kulihat setelah ini di ujung jalan, tempat yang kutuju berada. Kubuka pintu kayunya pelan. Wangi yang lagi-lagi agak aneh rasanya muncul dari sebuah perpustakaan selain aroma buku dan furnitur kayu. Kulihat orang yang kunanti. Sedang menata buku, fokus sekali kelihatannya. Jarang-jarang juga aku melihatnya menggantungkan bingkai kacamata di wajahnya. Tapi kalau dipakai dia benar-benar seperti kutu buku sejati. Kupandangi punggungnya, kira-kira apa yang harus kulakukan? Sepertinya dia tidak sadar juga aku telah menyelinap masuk kesini. Kuputuskan maju mendekat perlahan. Dia masih belum menyadarinya, apa karena sol sepatu yang kupakai tergolong super empuk sampai langkahku menyamai kucing rumahan milik rumah orang kaya yang ada di seberang jalan? T...