Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2025

Lunch Break

Aku mengambil langkah ringan dengan riang. Jalan setapak yang familiar dengan telapak kakiku. Walau tentu aku memakai alas kaki, tapi saking seringnya berkunjung, aku jadi hafal sekali rasanya berjalan disini. Atau mungkin juga wajah yang akan kulihat setelah ini di ujung jalan, tempat yang kutuju berada. Kubuka pintu kayunya pelan. Wangi yang lagi-lagi agak aneh rasanya muncul dari sebuah perpustakaan selain aroma buku dan furnitur kayu. Kulihat orang yang kunanti. Sedang menata buku, fokus sekali kelihatannya. Jarang-jarang juga aku melihatnya menggantungkan bingkai kacamata di wajahnya. Tapi kalau dipakai dia benar-benar seperti kutu buku sejati. Kupandangi punggungnya, kira-kira apa yang harus kulakukan? Sepertinya dia tidak sadar juga aku telah menyelinap masuk kesini. Kuputuskan maju mendekat perlahan. Dia masih belum menyadarinya, apa karena sol sepatu yang kupakai tergolong super empuk sampai langkahku menyamai kucing rumahan milik rumah orang kaya yang ada di seberang jalan? T...

Lopika

"Ini serius?” gadis yang memberiku sepucuk surat, sepotong kue, dan secangkir kopi yang familiar bagiku itu mengangguk mantap. Sudah ketiga kalinya aku bertanya dan jawabannya selalu iya.  *** Bukan pertama kalinya harum manis dari beragam kue yang berjejer di dalam oven menyeruak masuk ke dalam hidungku. Penerangan dengan lampu nuansa jingga lembut membuat waktu berjalan lambat. Di luar hujan cukup deras. Sore itu awan jadi menutupi jejak pergi matahari. Aku ambil tempat duduk dekat jendela yang kalau dipegang dingin rasanya. Melihat sekeliling, aku suka pilihan furniturnya. Kebanyakan kayu. Tapi minimalis, bukan dengan ukiran fantastis khas seperti yang banyak diproduksi di kota dekat Kota Semarang dengan inisial J.  Aku pesan kopi. Butterscotch. Enak diminum saat hangat. Punya rasa gurih manis dari butter dan gula merah yang dipadu padan dengan espresso. Kau tahu? Semua jenis kopi asalnya dari espresso, nama lain dari shot asli tanpa campuran apapun. Benar-benar fresh dari ...

Sleep Tight

"Di lutut lagi? Ini sudah yang kesekian kalinya.” Pria yang ada di hadapanku itu geleng-geleng kepala. Ini bukan pertama kalinya dia mengoleskan salep untuk memar untukku. Selain lutut, pundak dan tanganku juga nyeri. Tapi ini semua akan terbayar setelah pentas besar nanti.  “Kau sendiri bagaimana?” Pertanyaan ini membuatnya mendengus pelan. “Apanya yang bagaimana? Yang jelas aku tidak pernah terluka karena pekerjaanku.” Diam sejenak. “Kefatalan paling besar hanya tergores kertas di ujung jari.” Aku mengedarkan pandangan. Ada benarnya juga dia.  “Kau masih bekerja sekarang?” “Tidak, kami tutup jam delapan malam. Ruang belajar bukan dikelola olehku.” Balasnya sembari berdiri dan merapikan kotak barang-barang kesehatan khusus yang dibelinya untukku. Aku manggut-manggut. Lalu berpikir. “Apa maksudnya dengan kami?” “Tentu saja aku, dan para rak buku. Mereka juga dihitung.” Dia menghela napas. Sepertinya lelah juga mengobatiku hampir setiap malam. Manik matanya redup, walau memang ...