Postingan

Lunch Break

Aku mengambil langkah ringan dengan riang. Jalan setapak yang familiar dengan telapak kakiku. Walau tentu aku memakai alas kaki, tapi saking seringnya berkunjung, aku jadi hafal sekali rasanya berjalan disini. Atau mungkin juga wajah yang akan kulihat setelah ini di ujung jalan, tempat yang kutuju berada. Kubuka pintu kayunya pelan. Wangi yang lagi-lagi agak aneh rasanya muncul dari sebuah perpustakaan selain aroma buku dan furnitur kayu. Kulihat orang yang kunanti. Sedang menata buku, fokus sekali kelihatannya. Jarang-jarang juga aku melihatnya menggantungkan bingkai kacamata di wajahnya. Tapi kalau dipakai dia benar-benar seperti kutu buku sejati. Kupandangi punggungnya, kira-kira apa yang harus kulakukan? Sepertinya dia tidak sadar juga aku telah menyelinap masuk kesini. Kuputuskan maju mendekat perlahan. Dia masih belum menyadarinya, apa karena sol sepatu yang kupakai tergolong super empuk sampai langkahku menyamai kucing rumahan milik rumah orang kaya yang ada di seberang jalan? T...

Lopika

"Ini serius?” gadis yang memberiku sepucuk surat, sepotong kue, dan secangkir kopi yang familiar bagiku itu mengangguk mantap. Sudah ketiga kalinya aku bertanya dan jawabannya selalu iya.  *** Bukan pertama kalinya harum manis dari beragam kue yang berjejer di dalam oven menyeruak masuk ke dalam hidungku. Penerangan dengan lampu nuansa jingga lembut membuat waktu berjalan lambat. Di luar hujan cukup deras. Sore itu awan jadi menutupi jejak pergi matahari. Aku ambil tempat duduk dekat jendela yang kalau dipegang dingin rasanya. Melihat sekeliling, aku suka pilihan furniturnya. Kebanyakan kayu. Tapi minimalis, bukan dengan ukiran fantastis khas seperti yang banyak diproduksi di kota dekat Kota Semarang dengan inisial J.  Aku pesan kopi. Butterscotch. Enak diminum saat hangat. Punya rasa gurih manis dari butter dan gula merah yang dipadu padan dengan espresso. Kau tahu? Semua jenis kopi asalnya dari espresso, nama lain dari shot asli tanpa campuran apapun. Benar-benar fresh dari ...

Sleep Tight

"Di lutut lagi? Ini sudah yang kesekian kalinya.” Pria yang ada di hadapanku itu geleng-geleng kepala. Ini bukan pertama kalinya dia mengoleskan salep untuk memar untukku. Selain lutut, pundak dan tanganku juga nyeri. Tapi ini semua akan terbayar setelah pentas besar nanti.  “Kau sendiri bagaimana?” Pertanyaan ini membuatnya mendengus pelan. “Apanya yang bagaimana? Yang jelas aku tidak pernah terluka karena pekerjaanku.” Diam sejenak. “Kefatalan paling besar hanya tergores kertas di ujung jari.” Aku mengedarkan pandangan. Ada benarnya juga dia.  “Kau masih bekerja sekarang?” “Tidak, kami tutup jam delapan malam. Ruang belajar bukan dikelola olehku.” Balasnya sembari berdiri dan merapikan kotak barang-barang kesehatan khusus yang dibelinya untukku. Aku manggut-manggut. Lalu berpikir. “Apa maksudnya dengan kami?” “Tentu saja aku, dan para rak buku. Mereka juga dihitung.” Dia menghela napas. Sepertinya lelah juga mengobatiku hampir setiap malam. Manik matanya redup, walau memang ...

Iya atau Tidak

Dini hari. Dimana burung hantu pun sepertinya sudah memulai acara hariannya untuk berburu. Sayang, kepakan mereka tak bisa merayap jauh ke dalam gendang telinga milikku. Bukti bahwa mereka juga pemburu yang handal dan profesional, tak kalah dengan si jagoan yang gagah berani, Elang. Bagaimana rasanya bisa terbang bebas ya? Berbeda dengan mereka yang asik menjelajah misteri malam, aku disini suntuk menunggu. Dengan ujung kuku yang hampir beku. Mati rasa karena kaku. Hidungku yang tersumbat sebab baru saja menangis tanpa alasan membuat suaraku jadi sesak untuk keluar. Aku bertanya-tanya apa alasan dibalik jatuhnya air yang membasahi pipiku ini. Tapi aku tak kunjung menemukannya. Kalau ketemu pun sangat konyol rasanya. Ah, tak mungkin hanya karena senang dapat kawan baru. Mana mungkin kan? Sekarang apa? Aku masih menunggu. Setidaknya berikan jawaban atas pertanyaan ringan yang kulontarkan jauh lewat layar sentuh. Apakah aku terlalu memaksa? Tidak-tidak, tidak boleh begitu. Jadilah orang y...

Jangan

Plafon putih yang sama lagi. Lampu LED yang sepertinya juga perlu diganti. Berkedip selang sepuluh menit. Pemandangan yang selalu kulihat entah berapa lama. Aku sudah lupa. Atau memutuskan untuk lupa?  Beranjak turun dari kasur yang sama putihnya dengan pencahayaan ruangan ini. Ah, lantainya dingin. Kakiku meraba ke kolong kasur. Berusaha mencari apa yang mereka inginkan. Sandal dalam ruangan. Lagi-lagi warna putih. Aku menghela napas ringan. Kulirik jendela berbingkai tirai putih dua lapis tersebut, ini bukan pagi hari. Di luar sana gelap. Gelap gulita, hanya ada gelap dan gelap yang menghampiri kalau kau kesana. Tidak juga sebenarnya. Ada lampu temaram yang terlihat dari lantai nomor sebelas. Tempatku berada. Tidak hanya satu, tapi banyak. Aku bisa melihat kota dari atas sini. Mobil-mobil yang berjalan, pertokoan yang buka sampai tengah malam. Aku suka saat matahari sudah terbenam. Rasanya lebih tenang dan nyaman. Aku memutar gagang kunci jendela dan mendorongnya pelan. Angin mal...

Jakarta Malam Ini

Malam ini langitnya cerah, itu artinya tidak ada awan yang bergelantungan di atas sana. Angin malam menerpa halus, dingin. Karenanya aku memakai jaket tebal milikku. Niki bilang ini cocok denganku. Aku jadi senang setiap memakainya. Aku menggenggam tangannya erat. Jangan tinggalkan aku. Aku takut. Lampu jalan yang terang-benderang, lalu lintas padat yang berisik, orang-orang yang berlalu-lalang, gedung-gedung yang menjulang tinggi, Niki... tolong aku.  Dia selalu terkekeh ria setiap aku mengencangkan genggaman tanganku. "Galva, aku tidak akan meninggalkanmu." Aku cemberut–sebenarnya pura-pura kesal saja–agar dia melirik sedikit padaku. Dia tersenyum lebar padaku. Ah, jadinya pipiku terasa hangat. Aku juga tahu kalau itu yang paling dia sukai dariku. Katanya aku menggemaskan dengan wajah merah tomat. Itu berlebihan sebenarnya. Tapi biarlah, terserah dia bilang apa. Yang terpenting aku terlihat imut baginya.  Parfumnya vanilla, rasanya seperti toko coklat atau roti. Aku suka se...

VEIN [1/2]

“Astaga, Heinry! Jangan berlari!” Dengan tertatih dan menjinjing gaunnya. Berlari di padang rumput yang penuh dengan bunga dandelion. Langit biru cerah terpampang jelas di atas sana. Awan tipis yang tertiup angin sepoi-sepoi mulai bergerak malas dari tempatnya.  “Ahahaha, Nona! tangkap aku kalau bisa!” Sambil tertawa dia tetap berlari. Avery kesusahan untuk menangkapnya. Tak lama kemudian ia terjerembab ke rumput yang masih ditempeli embun pagi. Membuat wajahnya lembab karenanya. Heinry menyadarinya dan membantunya berdiri.  “Maafkan aku Nona, ayo kembali dan minum teh.” Heinry tersenyum.  “Dasar merepotkan, bajuku kotor tau. Kalau bukan disuruh oleh Ibu aku tidak mau mengejarmu. Lagipula untuk apa.” Tukas Avery kesal sembari menepuk-nepuk rok indahnya. “Sekali lagi saya minta maaf. Lagipula kau hanya seorang earl kecil. Mengomel saja sesukamu.” Viscount kecil ini jahil sekali.  “Diam kau viscount sinting, sadarilah tempatmu sekarang,” ujar Avery dengan menatap sinis...