Samudra

Debur ombak yang menghantam karang terdengar lagi. Kali ini semakin jelas. Kakiku juga semakin basah karenanya. Aku memandangi hamparan air biru yang terbentang luas di depanku. Lalu mataku beralih pada pergelangan tangan kiriku yang terdapat gelang berwarna biru tua kristal. Juga terdapat selipan manik hiu. Hewan favoritku. Kembali memandang lautan, dengan karang besar di kanan-kirinya. Aku memejamkan mata. Merasakan semilir angin yang berhembus halus menerpa wajahku.

   Apa yang akan terjadi kalau aku tidak bertemu dengannya hari itu?

***


   Aku berjalan, berjalan, terus berjalan. Dari pasir yang halus menjadi semakin kasar. Tercampur dengan kerang dan karang lain. Hingga air garam itu sudah mencapai pinggulku. Seseorang memanggil namaku.

   "Bintang! Bintang!" Tidak, dia berteriak untukku. Gadis itu berlari mengejarku yang terus berjalan agak jauh dari tepian laut. Aku berusaha menghiraukan. Tapi aku kalah cepat. Ia sudah menarik tanganku walau sempat berdebam sekali di bebatuan tumpul.

   "Bintang! Ayo kita menepi dulu!" Dia mencoba memapahku. Hei, aku tahu lututmu membiru. Tapi dia mencoba mencegahku untuk pergi ke tengah lautan. Tatapanku kosong.

   "Bintang, kamu masih mencoba melukai nadimu lagi?" Tanyanya cemas, sesaat setelah kami duduk di pasir yang masih terkena semburan bibir ombak. 

Aku terdiam. Dia meraba bekas luka yang semalam kubuat.

   "Sakit?" Ucapnya setelah melihatku meringis ngilu. Dia menghela napas berat dan merogoh sakunya. Dia membalut tanganku dengan kain kasa dan plester. Gerakannya lembut dan gesit. Aku hanya memandang pasrah apapun yang dia lakukan. 

   "Masih ada lagi?" Dia mengecek tanganku yang satunya. Hanya tersisa bekas luka dalam yang sudah menggelap disana.

Sekali lagi dia menghela napas. "Baguslah."

   "Mengapa kamu begitu peduli denganku? Aku hanyalah orang yang tidak diinginkan siapapun. Bahkan jika aku mati, orang tuaku mungkin hanya ber-oh saja dan tetap memanjakan kakakku." Suaraku mulai bergetar.

Dia memandangiku yang mulai terisak. "Tentu saja, Bintang. Aku adalah temanmu. Bukankah aku sudah berjanji untuk menjagamu selagi aku mampu?" Secercah senyuman tampak di wajah manisnya. 

   "Aku jadi merasa bersalah kalau kamu sebaik ini." Air mataku sudah menetes.


   Dia mengelus bahuku. Menyandarkan kepalaku padanya. "Tenang saja. Kalau memang dunia menolakmu, kamu masih mempunyai Tuhan dan setidaknya aku disisimu." 


   Aku meraung dalam pelukannya. Hingga tak terasa langit sudah menyentuh senja. Dia merogoh kantongnya lagi. Mengeluarkan gelang manik-manik biru, lalu memakaikannya ke pergelangan tanganku. Oh! Ada hiu yang berwarna abu bertengger disana dengan manik-manik yang lain.

   "Aku selalu disisimu, Bintang. Ingat itu. Mau satu dunia membencimu pun, aku janji akan terus bersamamu. Dirimu itu berharga, cintailah dirimu juga, Bintang."

***

-Imperia (@bozudesu on IG)


Special Thanks →

C☆, terimakasih sudah menjalani hidup dengan baik. Jangan mati karena keinginan sendiri ya. Jaga diri baik-baik, jangan lupa makan, jangan lupa tidur. 

Lakei, terimakasih orang sabar.

Dai dan Ame, terimakasih para fansku nomor 1

Terimakasih juga para pembaca, semoga menginspirasi.

Terimakasih juga Bu Ratna, yang sudah mengizinkan saya untuk menulis cerita ini.

Aku cinta kalian semua.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan

Sleep Tight