Bertemu [PILOT AIA]

Deru mesin motor beradu dengan teriakan orang-orang yang mendukung idolanya. Berseru-seru menyebut nama jagoan mereka masing-masing malam ini. Jangan salah, kalian pikir hanya anak-anak remaja berandal yang mengikuti permainan semacam ini? Balap liar ini diikuti juga oleh barista restoran mewah bintang lima milik kalangan atas. Tentu saja setelah Ia mengganti pakaiannya menjadi tak dikenali lagi sebagai seorang pekerja paruh waktu disana. Namun dia tidak punya motor disini? Bagaimana caranya dia bisa mengikuti balapan ini? 

“Astaga, Vier! Ini sudah kesekian kalinya kau meminjam motorku. Awas saja kalau kau tidak memenangkannya. Akan kuhabisi nanti.” Lawan bicaranya malah cekikikan ria. Kurang ajar memang.
“Tenang saja, kamu pikir aku ini siapa?” Sombongnya, oh nona berparas rupawan ini berkata benar adanya. Jika tidak menang pun, wajahnya tentu akan selamat. Tinjunya siap melayang kapan saja untuk yang menantangnya.
Sang pemilik motor menghela nafas panjang dan mengalah padanya. Membuat Vier berjingkrak girang karenanya. Vier langsung menyambar helm dan stang. Menuntun motornya untuk menuju arena balapan. Sorak sorai terdengar nyaring. Bersamaan dengan datangnya Xi, manusia serigala abal-abal yang asal-usulnya tidak jelas. Tiba-tiba saja dia sampai di tempat ini. Wajahnya sih menunjukkan kalau dia tersesat. Haha, selamat menikmati pertunjukkan, Xi.

Para peserta sudah menyalakan motornya masing-masing. Kira-kira siapa yang akan menang malam ini, kawan?
Wasit sudah mulai berhitung mundur. Tangan kanannya sudah memegang peluit nyaring, bersiap meniupnya kuat-kuat di hitungan terakhir. Tiga.. dua.. satu! Para jagoan penonton mulai melaju. Termasuk Vier yang melesat kencang, rahangnya menguat. Ini tandanya dia benar-benar ingin menang! Dia serius cuy! 

Mulailah arena ini memanas karena para peserta yang mulai saling menyalip. Bagian kanan, bagian kiri, woosh! Ah, aku tidak bisa mendeskripsikan betapa seru dan berisiknya tempat ini. Karena sekarang bukan cuma aku yang ada disini. Lihatlah serigala abal-abal ini. Lagaknya dia sedang kasmaran sekarang. Matanya tak henti-hentinya menatap gadis berambut hitam sebahu dengan sentuhan merah muda yang cetar. Khas sekali, itu rambut pembalap manis kita malam ini. Eh, memangnya Vier manis? 

***
Singkat saja, Vier bertos gembira bersama teman motornya yang lain. Yang lain bersorak hore untuknya juga. Vier jadi tertawa girang karenanya. Dia tidak dapat tinju di perut seperti kemarin oleh si pemilik motor. Si pemilik motor juga merasa puas malam ini. Ikut bertepuk tangan untuk gadis keren kita. Eh, memangnya dia masih gadis?

Malam yang semakin larut, tetapi serigala abal-abal ini belum juga beranjak pulang. Oh iya, dia kan tersesat. Dengan memantapkan hati dan sekarung teknik gombalnya, dia akhirnya melangkah menghampiri sang juara. Tapi sepertinya dia tidak bisa menutupi wajahnya yang terus-terusan memerah. Semakin dekat dengan gadis jaket magenta ini, semakin merona pipinya. Saat sampai di depannya pun suaranya tercekat. Aduh, Xi! Kamu ngapain sih! 

***
Hari ini hujan. Kembali lagi dengan Vier, anak ini sangat menyukai hujan. Gila, dia rela membasahi seluruh tubuhnya dengan air hujan. Mendekap erat tetesan awan kepada bumi. Sinting, apa yang membuatnya sangat menyukai hujan?

Pria separuh serigala ini pasti masih tergila-gila dengan wanita yang Ia temui kemarin malam. Terus-terusan pipinya merona saat memikirkannya. Seringkali orang sekitarnya mengira Ia sedang sakit atau apalah. Tapi takdir dipihaknya sekarang. Dia bertemu lagi dengan cewek yang diidamkannya itu. Ingin sekali dia menggenggam tangannya. Lalu mengatakan bahwa dia sangat menyukainya. Atau mencintai? Jangan naif, mana ada cinta pandangan pertama.

Tapi kata pria satu ini, ada. Tingkahnya sangat ketara. Telinga berbulunya yang disembunyikan dalam hoodie selalu turun saat memikirkannya. Wajahnya hangat. Seperti saat ini. 

Ah, lagi-lagi dia tidak bisa bicara. Berdehem sejenak, akhirnya dia bisa. “Mau jadi pacarku?”
Tentu gadis itu menatapnya dengan tatapan sinis. Tapi dia sendiri tidak bisa melihatnya. Mata Xi seperti terkubur dalam bayangannya sendiri. Ia tak bisa mengangkat kepalanya. Tidak mau, tidak kuat rasanya. Berat sekali.

***
Xi rasanya diombang-ambing. Apakah gadis ini juga mencintainya? Tak pernah dia lihat wajah gadisnya merona. Atau takkan pernah? Memikirkannya membuat Xi murung. Tapi gadisnya sendiri tidak pernah protes kalau dia memeluknya. Namun matanya selalu terpicing kesamping. Ini membuatnya tidak tenang. Selain itu dia juga penasaran. Apakah cintanya ini bertepuk sebelah tangan?

“Beb, kamu cinta aku kan?” Mendengarnya malah membuat gadisnya tertawa. Lucu sekali.
“Kamu berharap apa dari jawabanku ini?” Hatinya terasa sakit. Apa artinya selama ini dia tidak pernah mencintaiku? 
“Hei, jangan menunduk. Lihat ke mataku.” Vier mengangkat dagunya keatas. Memperlihatkan air muka Xi yang seperti ingin menangis. Pipinya hangat sekali. Gadisnya malah semakin tertawa karenanya. Yang membuatnya semakin sedih. 
“Aku tidak bercanda..” Dia malah menangis sesenggukan. 
“Sejak kapan kamu jadi manja begini?” Apakah rasa sakit hati ini terbayarkan dengan usapan lembut tangan milik gadisnya itu? Demi merasakan kelembutan buaian ini, tangisan Xi malah menjadi-jadi. Mau tidak mau Vier mendekap erat Xi, berharap air matanya mengering segera. Kali ini wajahnya sangat dekat. Jemarinya mengusap lembut mata milik Xi. Membuat jantungnya berdegup kencang. Apakah Xi bermimpi? 

Diluar hujan. Suara gadisnya terdengar samar. Xi hampir terlelap di pelukan gadisnya itu. Ah, tidak tahu ini mimpi atau bukan. Kecupan singkat di pipi Xi terasa sangat nyata. Sehangat pipinya yang masih seperti tomat. Xi jadi memeluk gadisnya semakin erat di separuh nyawanya yang sudah terlelap. 
“Aku..”

***
Sayang sekali Xi, kamu tidak akan pernah tahu apa yang dia ucapkan saat itu. Xi terbangun dengan matanya yang sembab. Dia tidak melihat gadisnya di kamarnya. Loh? Siapa yang membawanya ke kamarnya? Tunggu, ini bukan kamarnya. Ini kamar gadisnya. Benar kan? 

Xi sedikit panik karenanya. Raut mukanya terukir jelas di cermin lebar setinggi 2 meter itu. Mengapa gadisnya punya cermin sebesar ini? Bingkainya pun tidak main-main. Emas mengkilap dengan ukiran indah, seindah wajahnya. Dia juga melihat surat yang kini sudah di tangannya. Dia membacanya cepat-cepat. Takut kalau itu yang membuat gadisnya pergi. Tapi ternyata itu undangan ke sekolah? Dengan namanya tertera di sana? Itu surat miliknya. Dia celingukan, siapa tahu melihat sesuatu yang dapat menjelaskan isi surat ini. Di suratnya tertera point tentang cermin. Apakah itu alasan mengapa ada cermin besar ini? 

Xi menyentuhnya. Percikan seperti riak air muncul. Ini bukan cermin biasa. Di saat yang kedua kalinya Ia memegang permukaan cermin itu, Xi langsung tertarik masuk kedalamnya. Tanpa bisa menjelaskan apa-apa pada gadisnya saat itu. Siapa yang menyangka Xi dapat menahan rindunya selama 11 bulan lamanya. Sampai gadisnya mendapat surat yang sama, juga waktu untuk menyadari bahwa gadisnya berada di tempat yang sama dengannya. Mereka kembali dipertemukan oleh sang takdir.

[imperia]



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan

Sleep Tight