Jakarta Malam Ini

Malam ini langitnya cerah, itu artinya tidak ada awan yang bergelantungan di atas sana. Angin malam menerpa halus, dingin. Karenanya aku memakai jaket tebal milikku. Niki bilang ini cocok denganku. Aku jadi senang setiap memakainya. Aku menggenggam tangannya erat. Jangan tinggalkan aku. Aku takut. Lampu jalan yang terang-benderang, lalu lintas padat yang berisik, orang-orang yang berlalu-lalang, gedung-gedung yang menjulang tinggi, Niki... tolong aku. 

Dia selalu terkekeh ria setiap aku mengencangkan genggaman tanganku. "Galva, aku tidak akan meninggalkanmu."


Aku cemberut–sebenarnya pura-pura kesal saja–agar dia melirik sedikit padaku. Dia tersenyum lebar padaku. Ah, jadinya pipiku terasa hangat. Aku juga tahu kalau itu yang paling dia sukai dariku. Katanya aku menggemaskan dengan wajah merah tomat. Itu berlebihan sebenarnya. Tapi biarlah, terserah dia bilang apa. Yang terpenting aku terlihat imut baginya. 


Parfumnya vanilla, rasanya seperti toko coklat atau roti. Aku suka semuanya sih, mau itu wangi mawar, popcorn–dia suka mencoba banyak wewangian–atau jeruk yuzu. Kami terus bergandengan menuju halte bus. Menunggu kotak besi biru itu lewat sesekali untuk kembali ke apartemennya. Ini pertama kalinya aku ke ibu kota lagi sejak beberapa tahun silam. Tadi kami baru saja mengunjungi mall besar. Untuk makan dan berkeliling sebentar. Tapi sekarang sudah hampir jam sepuluh malam, jadi kami tidak bisa jalan-jalan lebih lama lagi. 


Tangannya kecil dan tubuhnya lebih pendek dariku. Tapi rasanya dia lebih tahu, lebih percaya diri, lebih menawan dariku. Tidak apa-apa, aku senang juga diperlakukan seperti ini–digandeng Niki di sepanjang trotoar. Niki menyayangiku, aku juga begitu.


“Niki masih menyukaiku kan?”


Dia jadi tertawa geli. “Tentu saja.” 


Setelah dia mengatakan itu, aku sedikit bersandar di bahunya. Kita sudah sampai di halte 2 menit lalu. Aku yakin nafasku terasa di lehernya. Niki agak terkejut tadi, tapi dia sudah terbiasa denganku–yang sedikit manja, suka berpelukan–dan menghela nafas kecil. 


Bus biru itu datang tidak lama, kita segera naik dan kembali duduk di kursi penumpang. Aku takut Niki sedikit sesak denganku, jadi aku melepaskan tangannya.


“Dingin tahu…”


Aku menaikkan alisku, dia sedang dalam mood yang bagus sepertinya. “Baiklah.”


Aku menggenggam tangannya lagi dan memasukkannya ke dalam saku jaketku. Lagi-lagi wajahku hangat, entah karena memang pendingin ruangan atau karena Niki sangat cantik malam ini. Dia masih memakai setelan kerjanya karena sore tadi buru-buru menjemputku. Aku suka sekali dengan pilihan baju-baju yang Ia kenakan. Modis dan rapi, sedikit berbeda denganku yang hampir setiap hari memakai baju kasual–karena hanya kerja freelance sebagai illustrator. 


Akhirnya kita sampai. Tapi Niki mau menunjukkan Jakarta saat malam hari diatas jembatan penghubung jalan–yang seperti di tol itu. Jakarta memang punya pesonanya sendiri. Sebagai ibu kota metropolitan yang ramai. Juga sebagai batu lompatan karir untuk Niki. Kerlap-kerlip lampu warna-warni terlihat bertaburan di jalanan. Aku senang bisa kesini, bersama Niki yang kugenggam erat tangannya.


-imperia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan

Sleep Tight