Postingan

Mungkin

Pukul setengah dua belas malam. Malam yang ramai di bioskop karena pintu teater 4 baru saja dibuka. Mereka telah berbondong-bondong untuk menonton film horror terbaru yang digarap oleh sutradara senior. Karya-karyanya benar-benar mencengangkan. Menakjubkan, juga memiliki arti-arti terselubung di setiap adegannya. Selain itu dia juga tidak memasukkan banyak jumpscare atau scene yang membuat orang terlonjak kaget karenanya. Dia membuat kesan film tersebut mencekam hebat. Yang membuat penonton seakan-akan dapat memasuki film itu dan merasakan sensasi menegangkan tersebut. Mungkin itulah alasan kenapa banyak orang yang menyukai genre horror/thriller . Seperti dua orang ini, yang sedang berjalan keluar dari bangunan bioskop yang bersiap untuk tutup. Mereka bergandengan tangan, mungkin karena sudah malam. Jadi kekasihnya ingin membuat wanitanya merasa aman. Pria yang bersurai pirang yang panjangnya sampai menyentuh tengkuknya itu tersenyum. Mungkin dia senang dengan dirinya dan kasihnya yan...

Bahagia

Gambar
  Jadi? Apa itu kebahagiaan?  Kapan kita akan tahu jawabannya?  Kenapa kita bisa bahagia? Apa kamu bahagia?  ***    "Menurutku itu rasa senang? Tidak.. itu lebih dari itu. Bahagia adalah perasaan yang rumit untuk dijelaskan." Ujarnya, sesaat sebelum makanan kami datang.     "Oh ya, terimakasih." Aku mengangguk kepada penjual batagor yang datang mengantarkan 2 piring kami.     "Intinya kamu berpikir bahwa bahagia hanya buncahan rasa senang? Apakah itu terjadi sementara atau selamanya?" Ia mengernyit. "Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?" Dia menyendok makanannya ke mulutnya. "Makan dulu saja." Ia mulai mengunyah. Aku sedikit kesal karena tidak mendapatkan jawaban yang jelas. Aku menatap geram bola mata hitamnya yang tertutup surai hitam kecoklatan miliknya. Benar-benar deh. Kupikir dia harus potong rambut segera. Dia bisa mencolok matanya sendiri dengan poni sepanjang itu. Aku sebenarnya tetap menikmati ma...

Bertemu [PILOT AIA]

Gambar
Deru mesin motor beradu dengan teriakan orang-orang yang mendukung idolanya. Berseru-seru menyebut nama jagoan mereka masing-masing malam ini. Jangan salah, kalian pikir hanya anak-anak remaja berandal yang mengikuti permainan semacam ini? Balap liar ini diikuti juga oleh barista restoran mewah bintang lima milik kalangan atas. Tentu saja setelah Ia mengganti pakaiannya menjadi tak dikenali lagi sebagai seorang pekerja paruh waktu disana. Namun dia tidak punya motor disini? Bagaimana caranya dia bisa mengikuti balapan ini?  “Astaga, Vier! Ini sudah kesekian kalinya kau meminjam motorku. Awas saja kalau kau tidak memenangkannya. Akan kuhabisi nanti.” Lawan bicaranya malah cekikikan ria. Kurang ajar memang. “Tenang saja, kamu pikir aku ini siapa?” Sombongnya, oh nona berparas rupawan ini berkata benar adanya. Jika tidak menang pun, wajahnya tentu akan selamat. Tinjunya siap melayang kapan saja untuk yang menantangnya. Sang pemilik motor menghela nafas panjang dan mengalah padanya. Me...

Samudra

Gambar
Debur ombak yang menghantam karang terdengar lagi. Kali ini semakin jelas. Kakiku juga semakin basah karenanya. Aku memandangi hamparan air biru yang terbentang luas di depanku. Lalu mataku beralih pada pergelangan tangan kiriku yang terdapat gelang berwarna biru tua kristal. Juga terdapat selipan manik hiu. Hewan favoritku. Kembali memandang lautan, dengan karang besar di kanan-kirinya. Aku memejamkan mata. Merasakan semilir angin yang berhembus halus menerpa wajahku.    Apa yang akan terjadi kalau aku tidak bertemu dengannya hari itu? ***    Aku berjalan, berjalan, terus berjalan. Dari pasir yang halus menjadi semakin kasar. Tercampur dengan kerang dan karang lain. Hingga air garam itu sudah mencapai pinggulku. Seseorang memanggil namaku.    "Bintang! Bintang!" Tidak, dia berteriak untukku. Gadis itu berlari mengejarku yang terus berjalan agak jauh dari tepian laut. Aku berusaha menghiraukan. Tapi aku kalah cepat. Ia sudah menarik tanganku walau sempat...

Berisik

Gambar

Hujan dan Air Mata

Sekali lagi aku menatap langit dengan rintik hujan membasahi wajahku. Sekali lagi, aku terlihat menyedihkan dengan beratap awan abu-abu. Dan sekali lagi rasanya bumi dan langitnya tidak berpihak padaku. Oh, atau ini salahku? Sejak awal dia bukan siapa-siapa untukku. Aku hanya, hanya orang yang terlalu berharap, terlalu percaya diri. Air mataku mulai luruh. Aku sudah sekuat tenaga untuk membendungnya. Maaf hujan, aku tidak bermaksud untuk bersedih saat ini. Tapi aku ingin mengeluarkan semua perasaan kesumat ini. Tak peduli seberapa basah pakaianku saat ini. Bahkan dia yang tidak peduli bagaimana keadaanku kali ini. Aku benci sekali diriku. Benci sekali.  Aku menghela napas berat. Titik air yang terjun terasa semakin kencang. Seperti busur panah yang menghantam punggungku. Ah, aku mengingkari janjiku sendiri. Seharusnya aku tidak perlu menangis untuk laki-laki sepertinya. Bodoh. "Haha," kasihan. Aku kasihan dengan diriku. Oh, air mataku yang berharga. Kalian tidak perlu pergi s...